Ibu dan Kenangan Kita


Setiap perayaan hari ibu, saya selalu terbawa kenangan akan almarhumah mama saya. Sekalipun, sudah 17 tahun lalu mama meninggal dunia mengikuti kepergian ayah dan seorang kakak beberapa bulan sebelumnya. Namun jejak kenangan tentang ibu saya seolah tidak pernah benar-benar bisa pergi.

Kenangan yang mungkin membekas dalam diri setiap orang anak, terutama jejak kenangan anak laki-laki tentang ibu mereka. Kawan saya yang seorang psikolog pernah menjelaskan kepada saya, bahwa pada dasarnya kecenderungan setiap anak laki-laki memang lebih dekat dengan ibu mereka, sementara anak perempuan cenderung lebih akrab dengan ayah.

Walau pandangan kawan saya itu belum tentu benar, karena terbukti saya dan Ali masih bisa berkawan akrab namun tidak bisa di pungkiri ada hal-hal tertentu yang membuat saya sadar, tentang sifat alamiah yang dimiliki seorang ibu yang tidak bisa tergantikan oleh seorang ayah.

Saya sering menyingkat kecenderungan tersebut sebagai 3 K (Kelembutan, Ketegasan dan Kuliner). Seorang ibu memang mewakili sifat feminim semesta, seperti kelembutan, kesabaran dan kasih sayang. Karena itulah kodrat alamiah sesuatu yang sangat berbeda dengan sifat maskulinitas yang ada pada seorang pria.

Tangan seorang ibu adalah obat yang paling mujarab bagi amarah seorang anak laki-laki. Saya sering merasakan keampuhan tangan ibu saya ketika meredakan amarah saya yang kadang tidak terduga dan bisa membuat repot satu keluarga. Begitu pula yang sering saya lihat, perulangan yang terjadi pada Ali yang selalu lunglai oleh belaian Endang istri saya.

Kedua, ketegasan. Banyak yang berpikir ketegasan hanyalah sisi yang dimiliki oleh seorang ayah dalam sebuah keluarga. Padahal, ketegasan seorang ibu menurut saya, jauh lebih menakutkan bagi seorang anak laki-laki dibanding sekedar kesungkanan seorang anak kepada seorang bapak.

Anak laki-laki, mungkin akan terlihat mendengar ketika ayah mereka marah dan memberikan nasehat, seolah-olah akan menuruti setiap kata-kata sang ayah. Padahal belum tentu demikian, karena bisa jadi hal itu hanyalah bentuk kesungkanan dan rasa hormat seorang anak kepada ayah.

Saya sering melihat ini, itulah kenapa saya percaya seorang anak laki-laki akan cenderung menuruti kata ibu mereka dibandingkan seorang ayah. Demikian pula seorang suami yang terlihat gagah, garang dan penuh wibawa, bisa jadi punya kecenderungan memiliki istri yang lebih berani (hehe mengutip ustd dasad)

Ketiga, kuliner. Saya percaya seorang anak diam-diam akan terus mencari dan merindukan masakan ibu mereka sekalipun  telah berkeluarga secara mandiri dan punya uang untuk makan di restoran enak dan mewah.

Saya meyakini, lewat makanan yang dimasak oleh tangan seorang ibu, semesta kenang-kenangan anak dan sang ibu akan menjadi terhubung. Itulah alasan, mengapa seorang anak akhirnya selalu rindu pulang ke rumah ibu mereka, juga rindu kampung. Karena setiap orang selalu rindu jejak kenangan bersama ibu.

Selamat hari ibu untuk para ibu, percayalah hidup kalian punya arti bagi semesta.


Posting Komentar

0 Komentar