Kota Palu, Setelah Satu Tahun Berlalu


Kelurahan Balaroa tempat zona Likuifaksi

Tidak salah jika kota ini bernama Palu. Kota yang memang layaknya palu, keras dan terbiasa akan benturan. Mental warga kota ini, memang kuat seperti nama kotanya. Sekalipun tahun lalu mengalami hantaman tiga bencana sekaligus,tsunami,likuifaksi dan gempa7,4, namun peradaban kota palu masih berdiri kokoh sampai kini.

Setahun setelah bencana berlalu, aktivitas warga perlahan bangkit kembali. Warung kopi mulai ramai dengan canda dan tawa, perkantoran  pemerintah sudah berjalan seperti biasa, bandar udara Mutiara Sis Al-Jufrie nampak lebih cantik, beberapa hotel mulai membangun dan beroperasi kembali seperti sedia kala lagi.

Memang, sebagian wajah kota masih menyimpan kepiluan.Pantai taman ria sampai talise yang menjadi destinasi favorit saya ketika kecil,masih meninggalkan bekas luka yang terlihat jelas. Jejak kenangan ketika tsunami 28 september 2018, belum juga terhapus. 

Puing-puing reruntuhan bangunan yang hancur disekitar pantai, air laut yang meluber sampai ke jalan diponegoro, apalagi ketika malam hari  lampu penerang sepanjang jalan tidak menyala, selain menjadi titik rawan bagi mereka yang tidak berhati-hati, pasti akan meninggalkan momen trauma bagi para penyintas.

Bekas zona likuifaksi, seperti perumahan perumnas balaroa juga tidak berubah sama sekali. Bahkan nampak mulai menyatu serupa museum duka, karena sebahagian besar warga memang harus di relokasi ke zona diluar titik merah. Karena, perumnas balaroa bersama beberapa kawasan pemukiman seperti petobo yang sebelum bencana merupakan perumahan padat penduduk, kini tidak lagi di rekomendasikan untuk di huni.

Kawasan-kawasan perumahan padat itu, kini tinggal menyisakan puing rumah dan cerita orang-orang yang telah menyatu dengan tanah.  Begitu juga kisah tentang pantai kota palu yang selalu saya puja dan rindukan, katanya dari berita yang saya baca akan dibangun tanggul laut sepanjang 7,2 kilometer.

Pekerjaan Besar

September 2019, lembaga survei kami Indonesia Development Engineering Consultant (IDEC) melakukan survei opini publik tentang harapan warga kota palu tepat setahun pasca bencana. Hasilnya, ada tiga konsentrasi harapan dan desakan publik yang paling mengemuka untuk segera di benahi oleh pemerintah. Yakni, pembukaan lapangan kerja baru (29, 64%), Tata ruang dan pemulihan pemukiman warga pasca bencana (22,18) serta Jaminan keamanan warga akan aset (11,09%).

Tiga hal ini, tentu bukan pekerjaan mudah bagi pemerintah kota. Baik yang saat ini memimpin, maupun yang akan datang. Apalagi, tahun 2020 kota palu bersama tujuh kabupaten dan provinsi Sulawesi tengah, akan akan kembali menghadapi pemilihan walikota, bupati dan gubernur serentak.

Saya membayangkan betapa repotnya pemerintah kota palu saat ini, antara konsentrasi membangun infrastruktur pasca bencana, desakan pembangunan hunian tetap bagi warga dan pada waktu bersamaan harus berpikir dan bertindak cepat menghadapi desakan pembukaan lapangan kerja baru, belum lagi menghadapi tahun pilkada.

Siapapun yang kelak menjadi Walikota Palu ataupun Gubernur Sulawesi tengah harus punya konsentrasi menyelesaikan pekerjaan berat ini dengan cepat dan dalam waktu bersamaan. Utamanya, untuk persoalan lapangan pekerjaan. Karena tanpa lapangan pekerjaan, daya beli masyarakat akan terus mengalami penurunan dan sudah pasti akan punya imbas besar bagi berbagai sektor usaha dan jasa, serta  kehidupan sosial warga di kota palu bahkan Sulawesi tengah.

Membangun palu dan Sulawesi tengah dengan mengandalkan bantuan pemerintah pusat dan lembaga donor, juga bukan solusi jangka panjang. Pemimpin kota palu dan Sulawesi tengah pada masa akan datang, harus punya nyali besar selayaknya Park Chung-hee mantan Presiden Korea selatan.

Park Chung-hee adalah teladan yang mengubah wajah korea selatan yang dahulu adalah negara under developing countries menjadi negara maju. Kata kunci Park, ada pada gerakan industrialisasi. Lewat industri, lapangan pekerjaan dalam skala besar akan terbuka, pengangguran akan berkurang dan produktivitas berkembang.

Sebenarnya, kota Palu sebagai ibu kota provinsi Sulawesi tengah punya modal untuk itu, karena kota palu punya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang bisa jadi magnet penarik industri dan investasi skala besar, sekaligus mendorong pembukaan lapangan kerja baru dengan cepat.

Apalagi, kota palu adalah ibu kota dari provinsi yang Sulawesi tengah yang amat kaya. Provinsi terluas di pulau Sulawesi, punya kekayaan sumberdaya alam yang tidak main-main mulai dari mineral seperti nikel, emas, gas, kelautan, perkebunan serta pariwisata alam dan budaya kelas dunia.

Kini saatnya, para pemimpin daerah, warga kota palu dan seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja lebih cepat lagi, menjadikan momentum krisis pasca bencana sebagai momentum lompatan layaknya korea selatan.

Karena, saya percaya “setiap ujian besar adalah momentum untuk naik kelas. Sebab, baja yang kuat selalu di uji dengan tekanan dan benturan yang tidak biasa”. Maju kota palu, sejahtera dan berdaya saing provinsi andalanku Sulawesi tengah.



Posting Komentar

0 Komentar