Kerja di rumah aja?





Jauh sebelum Presiden dan para menteri, mengeluarkan fatwa untuk kerja di rumah, sejak beberapa tahun lalu saya sudah mempraktikkan kebiasaan tersebut. Hampir seluruh aktivitas pekerjaan saya lakukan dari rumah.

Sampai-sampai, banyak keluarga istri saya berpikir bahwa saya adalah seorang pengganguran. Saking sering mereka melihat aktivitas saya selalu di rumah. Beberapa diantaranya,  menuduh saya membuka kadai kopi, hanya karena teras rumah kami dilengkapi dispenser lengkap dengan alat seduh kopi, susunan gelas dan sejumlah kursi yang memang layaknya suasana kedai kopi.

Sejak dua atau tiga tahun lalu, saya sadar kehidupan dunia masa depan memang tidak lagi akan sama dengan abad-abad yang lampau. Corak Pendidikan di kampus tempat saya mengajar, telah membuat saya menyadari  akan perubahan zaman itu. Bahwa gelombang revolusi teknologi lewat internet telah mengubah mobilitas dan produktivitas warga termasuk cara belajar dan cara bekerja.

Kini, dengan sejumlah aplikasi smartphone, saya bisa bekerja dari mana saja dengan sejumlah tim yang berbeda provinsi dan wilayah. Hanya dengan kata kunci, “koneksi internet” serta suasana rumah layaknya kedai kopi.

Namun dalam beberapa jenis pekerjaan lain, memang kondisi ini sulit untuk dilakukan.

Contohnya, bagi mereka yang menggantungkan hidup dari bisnis transportasi, petani, nelayan,  jasa kurir serta banyak jenis pekerjaan lain, menjadi homeworker merupakan kemustahilan bagi sebahagian orang.

Karena itu, karantina warga lewat lockdown memang hanya bisa efektif bagi pekerja seperti kami dan kurang cocok bagi sejumlah orang lain. Himbauan bagi warga untuk menjadi soliter, mengurung diri di rumah atas nama solidaritas adalah hal juga yang mesti ditimbang baik-baik.

Karena bagi abang gojek dan mas-mas angkot, tidak beroperasi berarti tidak memiliki penghasilan. Tidak pergi ke-sawah, kebun atau melaut, berarti ancaman bagi dapur tidak ngepul.

Bagi saya, langkah pemerintah sudah tepat lewat pembatasan aktivitas sosial dan bukan melakukan lockdown total yang sama artinya membuat guncangan akibat virus akan lebih membesar dan menyebabkan goncangan sosial dan ekonomi di tengah masyarakat.

Nikmati Menjadi Homeworkers



Lewat peristiwa wabah Corona, pelan-pelan membuat siklus kehidupan sebagian orang mengalami perubahan. Jalanan kota yang semula selalu ramai, berubah sedikit legang. Pusat perbelanjaan dan beberapa titik zona aktivitas publik, sejak kemarin tidak lagi seramai hari biasa.

Terlepas dari kondisi yang abnormal hari-hari ini, bekerja di rumah sebenarnya punya kenikmatan tersendiri. Kita bisa mengatur lebih leluasa diri kita dari posisi duduk, pakaian, sampai ruang bekerja yang bisa jadi lebih nyaman dibandingkan saat berada dikantor.

Kemauan menjalankan segala aktivitas di rumah dan melakukan pembatasan jarak interaksi sosial, membuat masing-masing diri kita menjadi lebih memperhatikan ruangan tamu yang mungkin berdebu, lantai kamar dan tumpukan buku serta barang yang kadang abai kita perhatikan pada hari-hari normal.

Serta yang paling utama, kita semua bisa menikmati kehadiran dan pertemuan bersama keluarga tercinta. Momentum pembatasan aktivitas sosial, menjadi saat jeda untuk memberi makna perjumpaan nyata bersama istri, anak dan suami. Sesuatu yang biasanya hanya kita nikmati pada hari libur, kini bisa kita rasakan pada hari-hari normal.

Kini lewat himbauan kerja dan belajar dari rumah, menjadi momentum menghentikan sejenak, perpacuan dan perlombaan kehidupan yang terlalu melelahkan dan penuh peluh, sekaligus memberi ruang untuk memaknai kembali kehidupan yang kita jalani.

Termasuk lewat momentum ini, ibu-ibu karir yang selama ini lebih banyak menghabiskan waktu mereka di kantor, kembali memperhatikan dapur dan kamar tidur mereka yang mungkin selama hari-hari normal abai mereka perhatikan. Yang tentu saja, membuat para suami lebih senang untuk kerja di rumah aja!

Posting Komentar

0 Komentar