Lima Pelajaran di Musim Corona




Saya selalu percaya pesan guru saya, “setiap peristiwa kehidupan dan semesta, seburuk apapun pasti membawa pelajaran. Tentu, termasuk kejadian di balik peristiwa wabah corona yang kini mengguncang dunia.

Pelajaran yang membuat saya dan mungkin banyak orang lain sadar, bahwa kita manusia dengan beragam kesombongan pencapaian kemajuan pengetahuan dan teknologi yang kita miliki, sesungguhnya tidak memiliki kuasa apa-apa atas semesta.

Corona telah menghentak kesadaran kolektif kita, bahwa masih banyak misteri dunia yang belum bisa kita pecahkan. Termasuk obat untuk virus corona yang kini membuat gagap banyak kepala negara, dokter, ilmuwan dan kaum agamawan untuk menghadapi serangan badai pandemi global yang begitu menakutkan itu.

Namun di balik berbagai kejadian buruk, teror informasi dan ketakutan dari berbagai kanal berita dan media sosial yang kini terus menyebar. Yang membuat banyak orang bisa jadi lebih banyak mati karena depresi dan ketakutan ketimbang terinfeksi corona.

Setidaknya saya mencatat, ada lima pelajaran penting di tengah musim wabah corona. Lima hal yang membuat saya dan mungkin anda menjadi sadar, virus Corona adalah cara Tuhan untuk kembali mengantur kehidupan keseimbangan semesta.

Pertama, perbaikan kualitas udara. Peristiwa wabah corona memaksa segala mobilitas pergerakan produksi orang dan barang mengalami slowdown. Bumi yang setiap hari mesti menanggung beban akibat polusi pabrik sampai polusi transportasi, kini bisa sedikit bernapas leluasa.

Laporan badan Antariksa Eropa mengatakan lockdown memiliki efek positif besar pada penurunan emisi CO2, membuat langit-langit negara eropa menjadi lebih cerah. Akibat Corona, kualitas udara di Cina sebagai salah satu negara penyumbang polusi terbesar dunia juga menjadi lebih baik sejak awal Januari. Tentu demikian pula dengan Indonesia pasca Presiden Jokowi dan sejumlah kepala daerah memberikan himbauan pembatasan sosial.

Pelajaran kedua dari fenomena wabah corona, kita melihat ‘kuatnya solidaritas sesama manusia’. Lewat virus Corona, dunia yang semula diliputi ketegangan identitas, teror dan berbagai prasangka global, kini punya satu musuh bersama yakni virus Corona.

Tidak ada lagi ego antar negara, agama dan suku. Corona telah menyatukan umat manusia untuk saling bahu-membahu menghadapi virus global itu. Kita bisa lihat bagaimana China yang negara komunis begitu peduli akan kesehatan dunia, orang-orang kaya dunia seperti  Bill Gates dan Melinda Gates telah menyumbangkan US$ 10 juta untuk membantu pasien-pasien di China dan Afrika.

Arab Saudi bersedia menghentikan sementara berbagai aktivitas ibadah di Kota Makkah demikian pula Vatikan menutup untuk sementara berbagai aktivitas gereja katolik di seluruh dunia. Semua dengan satu tujuan, mengurangi penyebaran wabah Corona.

Ketiga, gerakan kembali ke rumah. Corona effect juga membawa siklus yang cukup baik pada kehidupan sosial masyarakat, termasuk di Indonesia. Gerakan melakukan pembatasan aktivitas sosial, membuat banyak ayah dan ibu berkumpul lebih lama bersama anak-anak mereka.

Jika tidak karena Corona, di kota-kota besar akan sulit kita temukan meja makan yang berisi penuh seluruh anggota keluarga. Juga percakapan mesra antara suami dan istri yang lebih panjang di kamar masing-masing.

Bahkan teman saya berujar, akibat himbauan pembatasan aktivitas sosial karena Corona, akan punya dampak bagi laju populasi angka kelahiran di Indonesia. Sambil bercanda dia menyampaikan “Corona bisa negative, tapi istri bisa positif”.

Ke-empat, prilaku hidup bersih. Menyebarnya virus Covid 19 telah membuat banyak dari warga negara kemudian sadar akan pentingnya hidup bersih. Dari berbagai fakta yang saya temui, akibat corona banyak dari kita semakin rajin cuci tangan bahkan sibuk mencari antiseptic sesuatu yang pada situasi normal kadang jarang menjadi perhatian.

Pola hidup bersih ini, seolah menjadi kesadaran massal bagi banyak orang. Karpet rumah ibadah yang kadang sebulan sekali baru dibersihkan, lantai rumah yang hanya sekali sehari di pel kini semuanya semakin rajin dibersihkan.

Lima, pengetahuan baru. Lewat peristiwa wabah Corona, saya kemudian mendapatkan sejumlah pengetahuan baru yang dahulu saya tidak ketahui. Tentang sejumlah bahan untuk membuat handsanitizer sendiri, sampai bahan-bahan sederhana untuk membuat disinfektan.

Akibat virus Corona saya juga belajar manfaat sejumlah tumbuhan yang berkahasiat untuk menjadi jamu bagi kesehatan tubuh. Termasuk, akhirnya saya bisa meracik dan membuat minuman khas asal Makassar, ‘Sarabba’.

Lalu, akhirnya saya dan kita semua, dibuat kembali merenungi ayat Al-Quran surah At-Taubah ; 126  “Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak mengambil pelajaran.” 



Posting Komentar

0 Komentar