Teror Corona




Akhirnya, dunia menghadapi hari-hari yang tidak biasa. Bahkan, negara adidaya seperti Amerika terlihat tidak berdaya menghadapi serangan wabah Corona. Sejumlah objek vital seperti Mahkamah Agung, pusat perdagangan Wall Street, sekolah, kampus hingga stadion olahraga di Negeri Paman Sam akhirnya tergangu akibat virus asal Kota Wuhan tersebut.

Jangan tanyakan, bagaimana efek Corona di negara asalnya Tiongkok. Sejak awal, negara dengan penduduk 1,3 Miliar tersebut langsung melakukan karantina di beberapa kota dan provinsi mereka. Corona bukan sekedar menggangu aktivitas publik Cina, bahkan lebih jauh Corona juga menghantam ekonomi negara tirai bambu.

Laporan kinerja perdagangan Cina menyebutkan, pada kuartal I tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Cina merosot pada level terendah sejak tahun 1990. Virus Corona juga menciptakan penurunan tajam terhadap permintaan Ekspor China yang anjlok 17,2 persen pada periode Januari-Februari 2020 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perjalanan virus Corona di Timur Tengah, bukan hanya mengganggu aktivitas ibadah seperti kebijakan Negara Saudi untuk menutup sementara akses pelaksanaan ibadah umrah. Namun lebih jauh, melahirkan perubahan seruan azan agar melaksanakan sholat di rumah masing-masing dan bukan di masjid.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Kemarin Presiden Jokowi sudah mengumumkan himbauan untuk melakukan pembatasan aktivitas publik, sekolah, kantor dan menyerukan untuk kerja dari rumah. Kebijakan yang hari ini diikuti oleh sejumlah kepala daerah dengan meliburkan sekolah, menutup tempat hiburan dan menghindari aktivitas bersama termasuk pelaksanaan ibadah.

Teror Corona telah menyebabkan situasi panic disorder di Indonesia. Gejalanya mulai terasa dari kelangkaan masker, hand sanitizer sampai pada gejala yang lebih luas aksi borong sembako yang pelan-pelan menggejala di beberapa provinsi dan kabupaten di Indonesia.
Situasi krisis dan penuh teror tersebut, semakin parah dengan berbagai berita hoax di sejumlah daerah tentang korban yang membuat publik semakin diliputi kecemasan dalam menghadapi teror Corona yang melanda dunia dan kini telah menjalar di dalam negeri.

Dalam masa krisis seperti ini, utamanya menghadapi teror informasi tentang Corona setidaknya ada tiga elemen penting model komunikasi krisis yang mesti dilakukan pemerintah dan pihak pemangku kepentingan untuk mencegah terjadinya chaos sosial yang lebih luas akibat teror informasi tentang Corona.

Pertama, kecepatan informasi dari pihak yang berkompeten. Pembentukan Satgas Covid 19 sebagai sumber rujukan utama informasi adalah langkah yang sudah tepat. Tapi sebaiknya, update perkembangan situasi seputar Corona harus terus dilaksanakan setiap waktu agar publik terus mendapatkan situasi terbaru.

Kedua, konsistensi informasi. Setiap sumber pengambil kebijakan pemerintahan mesti konsisten dalam menyampaikan informasi dan tidak boleh terjadi perbedaan informasi dari elemen-elemen resmi dalam menyampaikan perkembangan seputar teror Corona yang terjadi.

Ketiga, keterbukaan. Dalam situasi krisis sumber resmi harus berani menyampaikan situasi yang terjadi secara terbuka tanpa menyembunyikan informasi yang sebenarnya. Walaupun mesti dikuti dengan strategi komunikasi yang persuasive agar menghindari terjadinya kepanikan yang lebih besar.

Karena sesulit apapun situasi yang kita hadapi, setiap elemen anak bangsa mesti tetap berpikir tenang dan bertindak terukur. Dua hal yang akan menghindarkan Indonesia dari kondisi panik sosial yang lebih luas dan akan berujung pada situasi chaos sosial yang menyebabkan indonesia justru dalam keterpurukan.

Saya yakin teror corona ini akan punya akhir, dunia hanya sedang menyusun keseimbanganya kembali. Lalu kita semua akan baik-baik saja.




Posting Komentar

0 Komentar