Tetap Sehat Dokter Pejuang Kemanusiaan

 

Prof. Dr. Idrus Paturusi bukan nama biasa di hati banyak orang. Apalagi, bagi generasi pasca tahun 2000-an yang kuliah di Universitas Hasanuddin. Nama beliau tertera jelas dalam setiap lembar ijazah kami semua yang lulus pada masa tersebut.

Ya, Idrus Paturusi adalah Rektor Unhas untuk dua periode, sejak tahun 2006-2010 dan berlanjut sampai 2010-2014. Walau, ketika mahasiswa saya sering berbeda jalan, tapi itu tidak membuat rasa hormat saya kepada beliau berkurang. Karena bagi saya, Prof. Dr. Idrus Paturusi adalah sosok rektor yang visioner, keras, namun tetap menghormati perbedaan gagasan.

Rasa hormat saya kepada Profesor sepesialis bedah tulang itu semakin besar, karena pasca menjabat rektor, seorang Idrus Patturusi bukan berleha-leha, istirahat menikmati masa pensiun layaknya banyak pejabat lain yang ingin menikmati hari tua.

Lelaki senja kelahiran tahun 1950 tersebut justru meneruskan medan pengabdian untuk menolong  orang banyak. Sebuah pilihan yang tidak biasa diambil pada usia beliau yang tidak lagi muda. Yakni, menjadi dokter relawan bencana.

Media  memberikan gelar, ‘Idrus Paturusi, Dokter Kemanusiaan’. Pasalnya di berbagai medan bencana dari Sabang sampai Marauke, Idrus Patturusi selalu hadir, baik memimpin tim medis, membawa donasi, sampai tetap melaksanakan operasi untuk menolong korban bencana dengan tangan sendiri.

Idrus Paturusi memang sosok yang tidak pernah mengenal kata lelah. Hanya beberapa hari pasca bencana gempa, tsunami dan likuifaksi di Kota Palu, Sulawesi Tengah tahun 2018, saya masih ingat betul dari balik kaca Rumah Sakit Undata sempat  melihat sosok yang tidak lagi muda itu, masih bersemangat memimpin para dokter menangani korban yang datang silih berganti.

Dua hari lalu, rasa kagum saya semakin bertambah kepada beliau. Ketika begitu banyak orang dan pejabat publik yang berusaha menyembunyikan status kesehatan mereka dari wabah Corona. Seolah-olah, ketika terkena wabah adalah aib dan dosa besar.

Seorang Idrus Patturusi justru dengan ksatria mengumumkan kepada publik status kesehatannya secara terbuka, bahwa dirinya sedang menjalani isolasi di Rumah Sakit Pendidikan Unhas sebagai pasien positif Corona. Idrus Patturusi tidak malu jika orang mempertanyakan dan bisa jadi menggugat dirinya, mengapa seorang dokter bahkan sosok yang masih sempat mimpin aksi relawan untuk melawan covid 19 justru terpapar.

Peristiwa pengakuan terbuka yang dilakukan Prof Idrus tersebut, justru mengundang simpati publik. Banyak air mata teman, junior, dan murid-murid dari dokter lulusan Unhas itu jatuh tidak tertahan. Ribuan doa ramai beredar di media sosial untuk keselamatan ayah dari dokter Sultan Hasanuddin itu.

Kemarin, lagi-lagi Prof Idrus membuat saya terharu. Lewat media sosial, beliau bercerita tentang perkembangan kesehatan yang mulai membaik. Selain itu, dokter pahlawan kemanusiaan itu kembali memberikan pesan berharga bagi seluruh rekan sejawatnya untuk selalu ingat akan ikrar dan sumpah Hippocrates yang pernah mereka ucapkan.

“Tugas utama kita, membaktikan hidup bagi prikamanusiaan”. Begitu pesan sang pejuang kepada rekan dan anak-anak didiknya. Bahkan, seolah tidak berpikir wabah yang kini menggerogoti tubuhnya, Prof Idrus masih juga masih mengajak para tenaga medis yang kini berada di garda terdepan agar tetap melayani masyarakat dengan tulus dan ikhlas.

Sesuatu yang membuat saya malu, betapa saya belum melakukan apa-apa bagi sesama. Namun, lewat semangat yang ditebarkan oleh Prof. Idrus Paturusi juga membuat saya yakin, kita bisa menghadapi pandemi global ini secara bersama-sama dan badai Corona pasti akan berlalu.

Kali ini, sebagai salah satu alumni dari kampus yang pernah kau pimpin, izinkan saya lancang kepadamu wahai Profesor kebanggaan kami. Nikmati sedikit masa pensiunmu selama masa karantina ini. Istirahatlah sejenak agar kami bisa terus belajar dari dirimu.

Biarkan para  murid-muridmu tampil di garda terdepan berperang menghadapi wabah ini. Kami orang-orang biasa ini, juga akan berusaha membantu dirimu dan para medis lain untuk terus mengajak sesama agar tetap di rumah saja. Agar kalian para medis juga punya waktu sejenak untuk istirahat dan kembali bersama keluarga dengan sehat.

Cepat sehat Prof, pejuang kemanusiaan kebanggaan kami…

Posting Komentar

0 Komentar