Akhirnya di Jalanan kita Kembali


Foto :Sumber  Suara.com


Pizza Hut kak, 100 ribu empat Box. KFC, satu kotak ayam goreng plus nasi cukup 27 ribu. Kalau ayam, cukup 8 ribu saja  per potong kak’.

 

Semenjak situasi krisis akibat  Covid 19, dalam empat bulan terakhir banyak hal memaksa kita untuk berubah. Termasuk, berbagai jaringan kerajaan waralaba  Fast Food mapan. Sebutlah Pizza Hut, KFC sampai Dunkin Donut yang selama ini selain berjualan makanan juga menjual situasi kenyamanan lewat gerai-gerai mereka yang biasa hanya  ada di mal-mal, akhirnya kini mesti ikut berjibaku di jalanan layaknya pedagang kaki lima (PKL)

 

Karena penasaran,  akhirnya saya mulai mencari apa alasan mengapa  brand-brand besar tersebut rela turun kasta?

 

Setelah bertanya kepada beberapa karyawan perusahaan jaringan waralaba yang ikut menjajakan makanan mereka di jalan dan melakukan penelusuran di internet, ternyata saya menemukan setidaknya dua alasan mengapa akhirnya jaringan raksasa Fast Food tersebut kini ikut  berlomba mengais rezeki bergabung di jalan.

 

Pertama, pembatasan aktivitas sosial berskala besar, telah membatasi bahkan melarang Mal untuk buka. Sementara posisi mayoritas gerai-gerai waralaba tersebut berada di Mal. Efek domino dari PSBB telah membuat pengunjung turun sangat drastis. Hanya mengandalkan pemesanan berbasis daring juga terasa kurang.

 

Selama covid banyak orang melakukan aktivitas di rumah, efeknya mereka masak sendiri’, ujar Ilham salah satu karyawan waralaba yang saya temui ketika membeli empat box Pizza Hut dengan harga 1000 ribu. Padahal pada situasi normal, harga setiap box pizza tersebut bisa mencapai 35 ribu rupiah per-box.    

 

Kedua, lewat metode pemasaran selling on the street dipercaya oleh para pemilik gerai sangat membantu karena bisa menarik pembeli tanpa perlu repot datang ke gerai-gerai mereka ditengah situasi kecemasan dan bayangan ketakutan akan penularan covid 19 yang masih begitu tinggi.

 

Namun ada hal yang lebih penting menurut Ilham, lewat metode pemasaran jalanan mereka menjaring pasar bagi mereka yang semula tidak berniat untuk membeli, akhirnya tergerak untuk membeli. Potensi pasar dari pembeli dadakan  adalah peluang bagi kerajaan bisnis mereka untuk tetap menaikkan omset penjualan pada situasi krisis.

 

Fenomena tersebut, telah membuat saya merenung. Lalu menarik kesimpulan, memang pada akhirnya kemampuan beradaptasi manusia adalah kunci untuk tetap bertahan hidup dalam segala situasi. Karena lewat kemampuan adaptasi maka setiap orang, institusi akan tergerak untuk melakukan berbagai inovasi layaknya apa yang dilakukan oleh kerajaan waralaba mapan yang kini harus rela turun ke jalan.

 

Tidak perlu malu, ragu dan takut akan perubahan. Sekalipun bisa jadi perubahan itu adalah peristiwa yang menyakitkan. Karena pada akhirnya, jalanan memang tetap masih menjadi tempat penting untuk bertahan hidup.

 

Salam satu aspal!!

 

 

 

 

 

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar