Gibran; Kuasa Politik Dinasti dan Bisnis


sumber foto; Tribun News


Saya menonton,
ketika Gibran Rakabuming Raka, putra pertama Presiden Joko Widodo itu menyampaikan sambutan ketika pembacaan rekomendasi PDIP yang disiarkan secara daring. Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan, ‘bahwa Gibran Rakabuming Raka, merupakan simbol abadi pertunjukan kembali hasrat akan pewarisan kuasa’.


Naluri primordial yang mungkin setiap orang miliki dari berbagai cerita babakan waktu dan sejarah. Entah itu dimulai dari zaman ketika imperium Kostanius I Romawi dari 306-307 masehi mulai bertakhta, Presiden Bush Senior dan Junior di negara Demokrasi seperti Amerika, Negara Komunis Korea Utara bersama turunan Kim Jong-il sampai dinasti paman Lee Kuan Yew di Singapura.


Pada konteks Indonesia, ada cerita tentang Megawati dan Puan Maharani, Susilo Bambang Yudhoyono bersama Agus dan Ibas, sampai akhirnya Joko Widodo dan Gibran. Jangan tanyakan pada sejumlah daerah, praktik dinasti politik ketika kekuasaan politik beredar dan di wariskan pada garis keluarga yang sama terus terjadi dari generasi ke generasi, dari pilkada yang satu kepada pilkada yang lain.

Bukan hanya pada arena politik, pada arena bisnis, sejumlah bisnis dengan corak family corporation adalah kisah abadi tentang dominasi keluarga pada sektor ekonomi. 


Mulai dari cerita Liem Seeng Tee, seorang perantau yang akhirnya menjadi legenda lima dekade kerajaan bisnis Sampoerna, Bakrie Group yang berdiri sejak tahun 1942 dengan bidang usaha bermacam-macam. Serta sejumlah nama beken perusahaan besar di Indonesia yang terus mewariskan generasi.


Pertanyaan yang mungkin layak kita ajukan, salahkah dinasti politik maupun regenerasi bisnis?

Jujur, menurut pendapat saya, regenerasi bahkan sekalipun dalam bahasa, nada dan kesan yang lebih negatif sering kita sebut sebagai ‘dinasti’sebenarnya bukan merupakan soal. Karena pada praktik dan kenyataan entah itu negara dengan corak komunis, demokrasi sampai pada republik parlementer seperti singapura, kehadiran regenerasi dan dinasti politik adalah kenyataan yang sulit ditolak.


Soalnya bukan pada politik dinasti ataupun regenerasi, tapi pada hal yang paling fundamental yakni pada kapasitas, kemampuan dari mereka yang akan berkuasa. Apakah mereka yang akan tampil naik panggung, sebagai pengganti telah memiliki sejumlah kapasitas akan bidang yang mereka pimpin.

Kedua, tentu soal cara dan proses memperoleh kekuasaan. Pada arena politik pemerintahan, mesti disadari bahwa negara dan pemerintah bukanlah kepemilikan privat dan jaringan keluarga. Karena itu, setiap mereka yang sedang mempersiapkan regenerasi, mesti memastikan bahwa penerus mereka memang telah pantas untuk naik panggung?


Pada urusan perusahaan keluarga? Para pemilik bisnis, harus bisa memastikan bahwa penerus mereka memang telah siap menjadi pemimpin dan mengelola aset, sumberdaya yang mereka akan wariskan.

Kembali, soal Gibran. Apakah telah pantas memimpin Solo? 


Ah, biar rakyat Solo yang memutuskan dan menjawab.  

Posting Komentar

0 Komentar