Revolusi Ilmu Komunikasi?



Bang, apa yang mau direvolusi dari ilmu komunikasi ?

 

Begitu bunyi sejumlah pertanyaan yang banyak masuk dipesan WhatsApp, Messenger FB, maupun DM Instagram saya. Pertanyaan yang datang dari teman kuliah, adik-adik kampus dan sejumlah teman-teman dosen.

 

Biasanya, respon saya tergantung pada siapa yang bertanya. Jika yang bertanya, orangnya serius akan saya jawab dengan serius.

 

Jika yang bertanya itu saya kenal baik adalah sahabat-sahabat saya dari golongan ‘paccalla-calla’

(guyon saling mecela, bahasa Makassar) atau mereka yang sekedar kepo, maka akan saya jawab singkat, ‘Tabe otakta yang mesti direvolusi’.

 

Sementara untuk mereka yang bertanya dengan serius, saya akan merapikan posisi duduk. Lalu akan menjawab dengan jawaban serius dan sistematis lewat dua argumentasi besar.  

 

Pertama, soal cara paradigma ilmu komunikasi itu sendiri. Revolusi punya makna, ‘perubahan mendasar’. Nah, apakah ilmu komunikasi mengalami perubahan mendasar saat ini ?

 

Dengan sangat yakin, saya akan menjawab, Iya.

 

Saya percaya pada pandangan Thomas Khun dalam The Stucture of Scientific Revolution, bahwa ilmu pengetahuan akan berkembang secara revolusioner dari satu paradigma kepada paradigma yang lain. Kali ini, perubahan yang dipacu oleh fenomena dunia baru yang bernama Internet dan era Artificial Intelligence telah membentuk revolusi peradaban baru, paradigma baru dalam melihat ilmu komunikasi.

 

Peristiwa Revolusi yang tidak dapat lagi dijelaskan dengan menggunakan paradigma pengetahuan lama ilmu komunikasi ala Claude Shannon dan Warren Weaver yang melihat proses komunikasi layaknya pengiriman pesan dari radio. Bermula dari Transmitter yang mengubah pesan menjadi suatu sinyal, melalui saluran tertentu (Channel) dan berakhir pada penerima (receiver).

 

Pandangan seperti ini, adalah proses komunikasi yang hanya tepat pada zaman ketika radio dan telepon merupakan teknologi terbaru yang mengundang decak kagum khalayak dunia pada era tahun 1949. Sementara kini, kita sedang hidup pada arena, multimedia, multichannel bahkan multiplatform.

 

Kedua, lantas apa implikasi perubahan itu? Pada semua bidang praktis ilmu komunikasi. Era baru yang sedang kita hadapi apalagi di masa pandemi Covid-19 telah menghadirkan kultur baru kehidupan komunikasi kita.

 

Pada bidang komunikasi politik misalnya, kini komunikasi politik bukan lagi soal siapa bicara apa? melalui saluran apa? kepada siapa? dengan akibat apa? layaknya padangan Lasswell dari masa perang dunia 1926.  

 

Komunikasi politik bukan lagi soal kehebatan orasi di panggung, propaganda dan opini publik. Komunikasi politik telah berubah menjadi strategi menguasai psikografi khalayak, kemampuan mengendalikan Big Data sampai mengenali dengan baik pola percakapan media sosial dan kerja Survey Network Analysis (SNA).

 

Pada bidang komunikasi pemasaran, bukan lagi sekedar soal branding dan kemampuan melakukan persuasi khalayak, tapi kemampuan mengendalikan chatbot, robot customer service, Ads dan berbagai perangkat kecerdasan buatan yang mempermudah berbagai model komunikasi pemasaran yang hendak dikerjakan.  Dunia PR kita berubah dari offline menuju PR online.

 

Apalagi pada bidang komunikasi pendidikan? revolusi perabadan virtual ini telah menggantikan ruang kelas, guru, dosen, bahkan wujud Universitas kita.

 

Serta banyak implikasi lain sebagai bagian dari ‘bunga rampai revolusi ilmu komunikasi’

 

Untuk mengakhiri, layaknya sebuah promosi, saya akan menjawab dengan kalimat, “Lebih lengkapnya, baca saja buku Revolusi Ilmu Komunikasi” baik versi cetak maupun digital.

 

Posting Komentar

0 Komentar