Putri, itu nama pacarku. Proporsi badan Putri sebenernya biasa aja. Kalau berdiri, tingginya cuma sedikit lebih pendek dari aku. Ukuran payudaranya juga rata-rata perempuan pada umumnya. Tidak yang besar banget, tapi juga tidak yang rata.
Yang aku suka dari Putri, dia suka pakai baju press body. Lekuk indah badannya jadi keliatan. Dia juga sering menguncir rambutnya. Leher jenjangnya yang putih jadi keliatan. Entah kenapa, buatku perempuan yang kelihatan bagian belakang leher dan telinganya itu jadi makin sexy.
"Mamamu kemana?" Tanyaku.
"Biasalah, lagi jualan di pasar." Jawab Putri.
"Bukannya kata kamu cuma sampai siang? Ini udah jam segini belum pulang?"
"Biasa habis dari pasar, dia jalan-jalan dulu sama emak-emak sesama pedagang pasar." Jelas Putri.
"Mau minum apa?" Tanya Putri.
"Yang dingin aja kali ya? Es teh gitu..."
"Ok. Tunggu sebentar ya." Putri langsung ngeloyor ke dapur. Aku memandang dari belakang lekuk tubuhnya yang ramping. Terdengar bunyi dentingan sendok ke gelas dan suara pintu lemari es dibuka dan ditutup.
Gak lama, Putri muncul dengan segelas besar es teh. Embun di gelasnya bener-bener menggoda.
"Kok cuma satu? Kamu gak minum?" Tanyaku.
"Bareng kamu aja lah." Kata Putri genit.
Putri lalu nyeruput sedikit. Lalu menyodorkan gelasnya ke aku. Dia tunjuk posisi bekas bibirnya.
"Ini bekas bibirku. Minum di situ aja biar berasa dicipok aku." Kata dia sambil nyengir.
"Ah... gelas doang. Pengennya langsung." Kataku sambil manyun.
"Entar dulu ya... aku mau ganti baju dulu. Gerah." Putri ngeloyor ke kamarnya. Cuaca hari itu emang panas banget. Aku mengibas-ngibas kaosku. Aku cari-cari kipas angin, tapi gak nemu. Kuminum sedikit es teh buatan Putri. Persis di bekas bibir dia. Enak. Seger.
Rasanya pengen nyusul Putri ke kamarnya, tapi ini baru jadian seminggu. Masa udah main sosor?
Gak lama, Putri keluar dari kamarnya. Pemandangan yang bikin terpana. Dia pakai tanktop longgar warna abu-abu, celana pendek longgar dengan bahan sama, dan rambut dikuncir. Pengen kusosor rasanya.
Putri langsung duduk di sisi kananku, dan bersandar di bahuku.
"Sayang..." panggil Putri.
"Yo"
"Aku pacarmu yang keberapa?"
"Aku pacaran baru sama kamu."
"Boong banget. Masa dari dulu gak naksir cewek?"
"Naksir sih ada. Tapi ceweknya yang gak naksir aku. Hahaha..."
"Wah, berarti seleraku down grade ya? Hahaha..."
"Ih... nyebelin. Dapet perjaka loh kamu." Kataku sambil colek pingganggnya.
"Geli tau... hehehe..." Putri bergoyang kegelian.
"Berarti masih sayang aku." Kataku.
"Pastilah." Kata Putri sambil ngeleyot manja.
"Aku pacar ke berapa kamu?" Tanyaku.
"Em... berapa ya? Satu... dua... yang itu... eh... gak juga ding... trus itu..." Putri menghitung sambil menunjuk jarinya.
"Kalau yang berasa serius, baru kamu sih." Kata Putri.
"Kalau yang gak serius?"
"Tujuh kali ya?"
"Lah... nanya aku..? Gile... laris banget kamu." Putri ini emang banyak yang ngelirik. Jujur, aku merasa beruntung dapet cewek secantik dia. Padahal aku cupu.
"Kamu gak minum es teh nya? Kok masih utuh? Gak suka ya?" Cecar Putri.
"Udah dikit. Enak. Tapi kayaknya lebih enak kalau lewat bibir kamu langsung." Kataku ngasal.
"Huuu... maunya..."
Putri mencondongkan dirinya ke meja, mengambil gelas es teh dan meminumnya.
Tiba-tiba kepalaku ditarik. Bibirku langsung dicium dia. Rasanya dingin. Aku sedikit membuka bibirku. Putri langsung menyemprotkan es teh dari mulutnya ke mulutku. Aku kaget. Nyaris keselek. Gila, brutal banget. Tapi asyik.
"Yang kayak gitu? Enak?" Putri sambil sok melotot tapi tersenyum.
"Uhuk... enak banget... tunggu aku keselek."
"Hahaha..."
"Sayang, makasih ya..." kata dia.
"Makasih buat apa? Harusnya aku yang makasih. Dicium sama bidadari."
"Itu first kiss aku"
"Hah? Tujuh kali pacaran gak pernah ciuman?" Tanyaku heran.
"Kan udah ku bilang, aku cuma main-main sama yang dulu-dulu."
Aku tegakkan badanku. Aku dekatkan mukaku ke muka Putri. Lalu ku kecup bibirnya. Halus.
Putri memejamkan mata. Aku anggap itu lampu hijau. Kami lanjut berciuman. Bibir kami saling mengait. Lidah aku dan Putri akhirnya saling beradu.
Penisku langsung tegang. Ini juga pengalaman first kiss aku. Aku pengen banget sentuh dadanya. Tangan kananku mulai menyentuh dada kirinya. Kagetnya aku. Dia gak pakai BH.
Ciuman kami berhenti. Aku sudah siap dia akan marah. Tapi tangan kananku masih di dadanya.
Mata Putri menatapku tajam, tapi agak sayu.
"Kamu suka?"
Aku mengangguk.
"Oh... aku tadi takut kamu gak suka cewek yang gak pakai BH. Aku gak suka pakai BH. Kayak terkekang." Jelas Putri sambil agak terengengah
Tanganku merasa menyentuh sesuatu yang keras. Putingnya mengeras.
"Aku suka. Suka banget. Kamu sexy." Kataku sambil memainkan putingnya dari luar kaos.
Putri mengigit bibir bawahnya.
"Kamu ke kampus gak pakai BH juga?" Aku penasaran.
"Beberapa kali. Lumayan sering." Kata Putri.
"Kok aku gak nyadar? Dada kamu pasti bagus banget, sampai gak keliatan kalau gak pakai BH." Kataku terpana. "Aku jadi pengen lihat." Tanganku masih mengelus-elus dadanya dari luar tanktopnya.
"Aku malu. Belum pernah tunjukin ke siapa-siapa."
"Aku juga belum pernah ciuman. Baru sama kamu. Berarti kita sama-sama baru pertama kali."
Beberapa saat kami terdiam. Tapi tanganku tidak diam, terus mengelus elus putingnya dari luar tanktopnya. Bentuk aslinya kayak apa ya? Putingnya warna apa? Pikiranku liar kemana-mana.
"Kamu bener mau liat dadaku?" Putri membuyarkan lamunanku.
"Kala boleh, ya mau banget. Pasti sexy." Kataku sambil menggoda.
Putri memegang tanganku, dan menaruh tanganku di pahaku.
Dia menatap aku sambil mengigit bibir bawahnya.
"Ok. Aku akan tunjukin. Tapi kamu merem dulu."
"Ok. Deal." Aku langsung memejamkan mataku. Aku menunggu.
"Udah." Kata Putri.
Aku membuka mataku. Aku terkesiap. Putri menundukkan mukanya. Mukanya bersemu merah. Kedua mata bersilang di dadanya, menutupi dadanya yang pasti tidak akan ketutupan.
-----------------------------
CatatanLiar.com
Berantakan dan Jujur
-----------------------------
"Kamu sexy banget!" Kataku hampir teriak.
Putri langsung memeluk aku sambil duduk. Dadanya menempel ke dadaku. Tangannya melingkar di belakang leherku.
"Aku malu banget, Sayang... Tapi gak tau kenapa aku pengen banget ngelakuin ini. Aku sayang kamu." Cerocos Putri.
Aku tepuk-tepuk punggung telanjang Putri. Halus banget. Penisku? Jangan ditanya. Super keras.
Setelah agak tenang, aku dorong sedikit badan Putri. Tangannya masih sedikit melingkar di leherku. Kepalanya masih tertunduk. Dahi kami saling bertemu. Tanganku memegang pinggangnya. Mataku tidak bisa lepas dari payudaranya yang bulat seperti pakai BH. Putingnya pink dan kecil.
"Kamu sexy. Aku suka banget."
"Bener?" Tanya Putri.
Aku menggangguk. Cowok mana yang gak seneng di depannya ada cewek sexy telanjang?
Aku cium lagi bibirnya. Ciuman kami lebih panas dari sebelumnya. Kedua tangaku memegang dadanya.
Aku lalu meremas-remas dadanya dan memainkan putingnya.
"Ughhhh..." Putri mendesah-desah panjang.
Ciumanku turun ke lehernya.
"Agh... agh... agh..." Erang Putri.
Aku turunkan ciuman ke belahan dadanya. Aku rasakan peluh Putri membasahi dadanya. Aku kecup pelan mengelilingi payudara kirinya, tapi tidak menghisap putingnya. Tangan kananku memilin-milin putingnya.
Beralih ke payudara kanannya supaya imbang. Tangan kiriku memilin-milin puting kanannya.
Aku kecup perlahan. Mulai dari sisi atas dadanya, lalu ke sisi dalam. Kembali lagi ke atas, lalu ke sisi dalam. Lalu aku kecup dan jilat kecil di lipatan bawah payudaranya. Aromanya harum. Sulit menggambarkannya. Tapi bikin aku ketagihan. Setiap aku kecup, aku hirup udara yang terkena dadanya. Bener-bener nikmat aroma kulit dadanya.
Penisku benar-benar tersiksa di dalam celanaku. Keras dan terabaikan.
"ARRRGGHHHH..." tiba-tiba Putri berteriak. Tangannya menekan kepalaku ke dadanya. Badannya melengkung ke belakang dan mengejang. Sepertinya Putri orgasme.
Aku menahan punggungnya supaya tidak jatuh. Kalau difoto, pemandangannya pasti bakal kontras banget. Perempuan sexy telanjang dada cuma pakai celana pendek sepantat dengan puting mungil yang keras. Sementara aku masih berpakaian lengkap.
Aku tunggu Putri tenang. Dia lalu membuka mata, tersenyum malu-malu.
"Kamu apain aku, sayang? Tadi enak banget."
"Cuma cium-cium dikit." Aku cengar cengir.
"Bener enak?" Godaku.
Putri menggangguk antusias. "Tapi kamu curang."
"Kok curang? Kan udah kasih enak." Protesku.
"Aku udah setengah telanjang, kamu masih pakai baju lengkap."
"Kamu mau aku telanjang?"
Putri menggangguk antusias.
"Ya udah, kamu yang buka." Kataku.
"Beneran?" Mata Putri berbinar.
"Iya... aku milik kamu."
Putri membuka kancing kemejaku. Pelan-pelan. Bibir bawahnya dia gigit lagi. Setelah semua kancing terlepas, bajuku disingkap. Dia meraba dadaku. Telapak tanganya mengusap-usap dadaku.
Dadaku tidak montok kayak binaraga. Tapi cukup bidang. Perutku juga gak six pack. Cuma four pack. Dielus dengan cara begitu, putingku mengeras. Geli geli nikmat. Putri mengusap lembut putingku dengan jempolnya berlulang-ulang.
"Aku isep ya?"
Belum aku jawab Putri sudah menciumi dadaku. Putingku dihisap-hisap. Makin tersiksa penisku.
Tangan putri merabai perutku. Awalnya cuma usapan. Lama kelamaan seperti pijatan gemas. Muka Putri kelihatan banget kalau dia terangsang berat. Rasanya aku kayak mau diterkam.
Tangan Putri meraih retsleting celanaku, lalu diturunkan. Dia mengusapusap penisku dari luar celana dalamku. Enak banget.
Sambil menatapku dan tersenyum, Putri memasukkan tangannya ke dalam celana dalamku. Dikocoknya penisku.
"Kayaknya enak banget?" Tanya Putri sambil terus menatapku.
"Gila... enak banget. Aku sampe melayang. Kamu pasti pengalaman, ya?"
"ADUH... SAKIT..." Aku teriak. Penisku ditarik dan dipelintirnya.
"Udah dibilang aku baru pertama kali begini. Masih gak percaya juga?"
"Iya iya... ampun, ampun. Aku percaya. Kamu emang berbakat sayang." Aku nyerah dalam kenikmatan. Aku angkat tanganku.
"Nah... gitu dong." Penisku ditarik keluar dari celana dalam. Tangannya terus mengocok penisku. Enak banget.
Putri berlutut di depanku. Celana panjang dan celana dalamku ditarik bareng. Sekarang bagian bawahku sudah polos.
Dia mengamati penisku. Sambil dibalik-balik. Kayak anak lagi mengamati mainannya. Penisku diacungkan ke atas, dia amati bagian bawahnya. Buah zakarku juga gak luput dari pengamatannya. Kantongku diangkat dia, lalu ditepok-tepok dari bawah.
"Gini ya bentuk titit cowok. Ada uratnya. Bengkok ke bawah juga. Gak kayak dibfilm bokep ya?"
"Ya kan tiap orang beda. Masa aku disamain sama cowok lain. Kamu suka bokep?"
"Baru sekali nonton. Dipinjemin temenku."
Putri mengecup ujung penisku. Rasanya geli banget. Tapi enak.
"Tititmu lucu, kayak jamur pink. Hehehe...". Duh, sempet-sempetnya bercanda nih Putri.
Putri lanjut mengecup ke sekujur penisku. Keisengannya muncul. Urat di sebelah atas penisku dielus-elus ke ujung hidungnya. Enak banget. Sampai di sisi bawah kepala penisku ada sedikit kulit yang tidak terlalu kencang. Kulit itu ditarik-tarik dengan bibirnya. Duh... enak banget. Ini baru pertama kali, tapi kok jago begini. Apa memang instingnya kuat banget?
Puas mengecup ngecup, dia mulai masukin penisku ke mulutnya. Persis kayak orang makan permen lolipop.
"Sseettt... agh..." aku mengerang keenakan. Aku elus-elus kepalanya.
Putri beralih ke kantongku. Dia jilat-jilat semua kantong zakarku. Persis kayak makan es krim. Aku lihat dari atas kepala Putri. Pemandangannya erotis banget. Cewek sexy dengan rambut terikat lagi menjilat-jilat buah zakarku.
Putri melirik ke atas. Kami bertatap-tatapan. Aku coba bilang lewat mata, "Enak banget". Tapi yang keluar dari mulutku cuma erangan nikmat.
Aku amati jam, sudah 10 menit dia menikmati penisku. Aku angkat Putri dan aku dudukkan di sampingku. Ada semburat kecewa mainannya diambil.
Aku cium dadanya. Kali ini putingnya aku jilat. Putri bergetar.
"Ah... kayak kesetrum... enak.."
Aku teruskan cium dan jilat putingnya pergantian. Bergantian kiri dan kanan. Rasanya kayak permen yang kenyel-kenyel, tapi gak manis. Netral aja. Sesekali aku gigit kecil, biar ada sedikit teriakan dari dia.
"Sayang, geli banget..." Putri menggeliat-geliat, tapi membiarkan aku terus mengerjai payudaranya.
Lidahku berputar-putar di putingnya. Aku juga cium cium halus lingkaran pink di sekitar putingnya. Bibirku cuma kena sekitar putingnya.
"Ah... ah... GILA... ENAK BANGET!!" Erangan Putri makin keras. Waktu dia teriak begitu, aku jepit sedikit putingnya dengan bibirku. Lalu aku tarik sedikit.
Aku lalu turunkan ciuman ke perutnya. Rambutku dijambak-jambak.
Perutnya rata dan halus. Aku tidak menemukan tumpukan lemak di perutnya. Wangi banget. Aku jilat-jilat seluruh perutnya. Dari bawah ke atas, dari sisi kiri ke kanan. Teratur, kayak menggambar garis vertikal.
Setelah selesai, aku ke pusarnya. Aku mainkan lidahnya di lubang pusarnya. Rasanya kayak masuk goa kecil. Putri makin brutal menggoyangkan perutnya ke kiri dan kanan.
"Geli... ampun..." Putri berusaha mendorong kepalaku sambil ketawa. Tapi aku gak kasih ampun. Aku terus memutar lidahku di pusarnya.
Aku masukkan tanganku ke dalam celananya.
"Kamu gak pakai CD?" Aku melihat kecatas, ke mukanya.
Putri mengangkat kedua alisnya, sambil senyum.
"Boleh?" Tanya dia.
"Boleh banget!"
Langsung aku turunkan celana dia. Vaginanya bersih gak ada bulu. Bentuknya seperti dua kue dorayaki ditangkup. Aku buka kakinya dan mulai aku hisap-hisap.
Aku sisipkan lidahku ke belahan vaginanya dari bawah ke atas.
"Hiya..." Dia menjerit.
Aku buka vagianya. Ada seperti dua lembar kulit vertikal di dalamnya. Di tengahnya seperti ada lubang. Bagian dalam vaginanya berwarna pink segar. Aku elus kulit vertikal itu sambil menengadah ke atas melihat mukanya. Dia juga menatap aku dengan tatapan penasaran.
"Kamu ngapain?" tanya Putri.
Aku cuma senyum. Aku elus lembut kulit dalam vagina Putri. Seketika mulut Putri membentuk seperti mau bilang "O" tapi suaranya gak keluar. Rambutku dijambak makin keras.
"Geli banget, tapi enak."
Aku lanjutkan dengan mengusap kulit dalam tadi dengan lidahku. Sesekali lidahku berusaha masuk ke selipan di antaranya. Ada rasa agak bergerigi, tapi halus. Vaginanya ada aroma khas, tapi bukan bau. Aku suka banget.
"Agh... agh..."
Ada bagian menonjol seperti kacang. Aku mainkan dengan lidahku. Sesekali aku tarik-tarik pelan kacang itu dengan bibirku. Putri menjerit-jerit gak karuan. Semoga tetangga gak denger.
Tiba-tiba kepalaku dijepit keras oleh pahanya.
"AGHHH.... Enak bangeeeetttt!"
Rambutku dijambak. Vaginanya berkedut-kedut. Dari vaginanya menyembur cairan licin. Sedikit asin. Aku hisap habis.
Setelah beberapa kali kedutan, jepitan paha Putri melemah. Aku naik dan duduk di samping Putri lagi. Aku lepas kemejaku. Aku lapkan ke sekujur dada Putri yang penuh peluh.
Kami berpelukan sambil telanjang.
Aku ambil gelas es teh. Aku sodorkan ke Putri yang masih terengah-engah. Putri minum sampai separuh gelas.
Dia tersenyum seolah bilang, "Terima kasih."
Aku minum juga. Aku kulum es batu, dan kusimpan di mulut. Lalu aku membungkuk ke dada kanannya. Tiba-tiba putingnya yang masih keras aku jepit dengan bibirku yang dingin. Es di mulutku aku usapkan ke putingnya. Tangan kananku meremas dada kirinya agak keras. Masih dengan es di mulutku, seketika aku pindah ke dada kirinya. Putingnya aku jepit dengan bibirku, lalu aku usap dengan es dimulutku. Tangan kiriku meremas dada kanannya dengan agak keras.
"AGGGHHHH..." Putri langsung menegang lagi. Badannya bergetar hebat. Kayaknya dia dapet orgasme beruntun.
"Ah... ah... ah..." Nafasnya terengah-engah. Putri memejamkan mata. Aku rangkul cium Putri, lalu ku dorong es yang sudah jauh lebih kecil di mulutku ke mulut Putri.
Setelah beberapa saat, nafas Putri mulai teratur. Putri membuka matanya dan tersenyum menatapku masih dalam rangkulanku.
"Kamu gila, Sayang." Kata Putri.
"Itu enak banget. Aku gak percaya aku pacar pertama kamu." Goda Putri.
Aku cubit kecil putingnya.
"Aw..."
"Kamu minta aku percaya kamu, tapi kamu gak percaya aku?" Kataku sambil senyum.
"Iya iya, aku percaya. Tapi kenapa kita yang baru pertama kali ini bisa enak banget ya? Kamu kayaknya punya bakat jadi bintang bokep. Hahaha..."
"Boleh juga idenya..." Mataku menatap ke langit-langit ruang tamu rumah Putri.
"Yeee.... maunya... Ya udah, aku ikut jadi bintang bokep." Putri gak mau kalah.
"Oke. Jadi aku bisa nonton kamu terus, dan punya koleksi film kamu." Godaku.
"Kamu mau aku main sama cowok lain?"
"Gak tau ya. Meskipun aku suka bokep, tapi aku gak tau juga kalau nonton kamu main sama cowok lain. Mungkin, kalau dulunya kamu bintang bokep, beda cerita. Tapi ini kan pacarku."
"Kalau aku main film bokep sama cewek lain, kamu bolehin?" Sambungku.
"Entah. Kadang aku berkhayal nge-sex rame-rame sih. Tapi gak tau juga kalau liat kamu main sama cewek lain." Kata Putri.
Kami pun terdiam. Aku berusaha meresapi dan menikmati yang barusan terjadi.
"Yang, kamu curang." Putri membuyarkan lamunanku.
"Curang apa lagi, nih?"
"Aku udah tiga kali keluar. Kamu belum sekalipun keluarin cairan kamu."
"Itu namanya aku perkasa... hahaha..." Godaku.
"Punyaku, rasanya gimana?"
"Enak, agak gurih. Teksturnya licin-licin gimana, gitu." Kataku.
"Aku kurang skill, ya? Kamu soalnya gak keluar-keluar."
"Justru kamu skill banget. Aku mati-matian berjuang biar gak ngecrut. Emang kamu pengen banget cobain cairanku?" Aku jadi penasaran.
"Iya... aku pengen banget. Aku lihat di film-film bokep kayaknya enak banget. Aku pengen cobain."
Gile, ternyata Putri binal juga. Tapi bisa-bisanya dulu dia gak lakuin apa-apa sama mantan-mantannya.
"Yang, kali ini aku mau coba lagi. Aku yakin aku bisa keluarin kamu. Please." Putri menatapku sambil mengelus-elus penisku yang masih tegang terus dari tadi.
"Hmmm...." aku cuma berdehem sambil menatap Putri.
"Ayolah... please..."
"Oke, kita balapan aja." Tiba-tiba ada ide iseng terlintas di kepalaku.
-----------------------------
CatatanLiar.com
Berantakan dan Jujur
-----------------------------
"Caranya?" Putri penasaran.
"Kita saling hisap, yang keluar duluan kalah."
"Oke, deal." Putri menyodorkan tangannya buat salaman. Aku sambut sambil kasih ciuman yang dalam.
Aku lalu tarik Putri ke lantai. Aku berbaring di karpet bulu di depan kursi tamu. Putri kutarik ke atasku.
"Kasih vaginamu ke mukaku. Nanti kamu hisap tititku." Kataku memberi instruksi.
"Gapapa nih, aku dudukin muka kamu?"
"Asal jangan kentut!"
Putri ketawa lepas. Putri naik ke atas mukaku. Kedua lututnya di samping bahuku. Dia lalu mengepaskan vaginanya ke mulutku. Bokongnya putih mulus. Aku sempatkan buat remas sedikit bokongnya. Halus banget. Tapi tidak seempuk payudaranya.
Aku lihat lubang pantatnya yang berwarna krem, versi shadow warna kulitnya yang putih. Aku ingin jilat lubangnya. Agak ragu sih, itu kan tempat keluar kotoran. Tapi karena warnanya yang putih bersih, jadi kuberanikan diriku. Kujilat sedikit dengan lidahku. Kayak kena ampela ayam. Tidak ada rasa apa-apa, cuma aroma kulit Putri.
"Hey!" Putri kaget karena tiba-tiba kuserang pintu pantatnya.
Lidahku kualihkan ke antara pantat dan vagina.
"Argh... Enak... geli..."
Aku mulai menjilat-jilat bagian bawah vaginanya.
"Stop. Stop... tunggu..." Kata Putri.
"Jangan curang dong. Aku belum mulai, kamu udah curi start duluan." Kata Putri sambil membukkan badannya dan melihat aku dari kolong diantara dua pahanya.
Putri merebahkan badannya di atas badanku. Terasa payudaranya yang kenyal menempel di perutku. Putri memegang batang penisku. Dikocoknya penisku naik turun.
Mulutku sudah tersumpal vaginanya. Langsung aku mainkan lidahku di sela-sela vaginanya. Aku suka bagian grenjel-grenjel dalam lubang vagianya. Kayak sentuh babat.
Aku merasakan tiba-tiba ada cairan di atas kepala penisku.
"Kayaknya aku belum mau ngecrut, kok ada cairan?" Aku bertanya dalam hati dan menalar.
Otakku menyimpulkan, Putri memberi ludah di kepala penisku. Gak lama aku merasa penisku seperti dijempit sesuatu yang padat. Putri memasukkan penisku ke mulutnya, dia menaik turunkan kepalanya.
"Mph... mph... mph..." Suara erangan mulut yang tersumpal penis keluar dari Putri.
Gila enak banget. Rasanya bener-bener geli. Tapi enak.
Kantongku tiba-tiba ditarik-tarik Putri. Sepertinya satu tangan Putri ikut mengocok penisku dan mengarahkan ke mulutnya. Satu lagi meremas-remas kantong zakarku.
"Arph... arph... arph..." Aku meronta-ronta, tapi mulutku tersumpal vaginanya.
Aku mengangkat lututku. Kepala Putri ada di antara pahaku.
"Putri, sayangku... aku gak tahan." Sambil aku dorong ke atas pantatnya biar aku bisa ngomong. Aku bener-bener mau nyerah.
"Erph.." Pantatnya ditekan lagi ke mukaku.
Aku remas-remas pantatnya yang sekal.
Putri bener-bener gak mau kalah. Otakku rasanya melayang. Seperti dijatuhkan dari ketinggian satu kilometer.
"Argh... terlalu enak... ampun..." Aku teriak sambil sedikit mendorong pantat Putri lagi.
Dia menekan lagi vaginanya ke mulutku. Kali ini ditambah goyangan brutal.
Aku merasa penisku makin keras. Gerakan naik turun kepala Putri juga makin cepat. Kocokan tanganya makin keras. Tangan satunya meremas-remas brutal buah zakarku.
Iseng aku melirik jam di dindingnya. Sudah 7 menit. Gila, kali ini Putri kuat banget. Kayaknya dia bener-bener gak mau kalah.
Tapi sesuatu terasa mendesak di dalam penisku.
"Putri, awas, aku mau keluar. Mph..." Kataku.
Bukannya makin lambat, Putri malah makin brutal.
Penisku mulai berkejut. Sebentar lagi mau keluar. Tiba-tiba Putri mencekek batang penisku, dan tangan satunya mencekek buah zakarku. Putri mengangkat kepalanya.
"Putri... aku mau keluar. Gila ditahan begini!" Teriakku blingsatan.
Tiba-tiba Putri memasukkan lagi penisku ke mulutnya, dan semua cekekan dilepas.
"AAAAHHHHH..." Aku teriak melepaskan perasaaanku. Pahaku menjepit keras kepala Putri.
Crot... crot... crot... crot... crot... crot... crot...
Penisku berkedut tujuh kali. Spermaku muncrat di mulut Putri. Tangan putri terus mengocok penisku dan buah zakarku.
"Uhuk." Aku mendengar Putri terbatuk.
Putri tetap menggoyang vaginanya.
"Mmmppphhh..." Putri teriak tertahan.
Crot... crot... crot...
Vagina Putri berkedut dan mengluarkan banyak banget cairan. Kali ini lebih cair. Mulutku langsung penuh cairan. Ini aku dikencingin atau gimana?
Aku telan semua cairannya. Tapi karena posisi terlentang, aku terbatuk. Sedikit tersedak. Tapi berhasil aku minum semua.
Kami diam sejenak. Putri masih rebahan di atasku. Sambil penisku dijilat-jilat.
Setelah tenang, aku turunkan Putri ke samping, lalu aku putar badanku supaya bisa kepalaku bisa sejajar dengan kepala Putri. Aku rangkul Putri. Kepala Putri di bahu kananku. Kita rebahan sejenak sambil menatap langit-langit.
Aku lirik dadanya yang tetap membulat meskipun rebahan. Putingnya masih keras. Badannya basah oleh perpaduan keringat kami. Badanku juga, basah sama keringet hasil pacuan kenikmatan kami.
"Aku kalah, Put. Kamu jago banget."
"Iya, kamu kalah. Hehehe." Putri sambil mengusap-usap dadaku dan memainkan pentilku.
"Makasih ya, cairanmu enak banget. Kentel, gurih, kayak putih telor." Sambung Putri.
"Emang kamu suka makan putih telor mentah?" Tanyaku.
"Enggak, cuma tadi tekstur sama aromanya mirip banget. Kayaknya mending makan cairan kamu dari pada putih telor mentah deh, Sayang."
Aku terdiam. Masih gak percaya dengan kenikmatan yang aku rasain barusan. Mulutnya aja seenak ini. Apalagi vaginanya, ya? Apa rasanya kalau ngeseks beneran?
"Put, kamu masih perawan?" Pinggangku dicubit Putri.
"Dibilangin kamu yang pertama." Kata Putri
"Aduh, aduh, ampun."
"Kamu kepikiran mau lepas perawan?" Goblok. Pertanyaan macam apa ini. Siap-siap aku ditampar Putri.
Putri memutar badannya menghadap aku. Sebelah payudaranya menempel ke dada aku.
"Kepikiran sih. Tapi masih takut. Katanya sakit banget ya pas pertama?"
"Ya gak tau juga. Aku kan juga baru pertama kali." Jawabkku.
"Kamu pengen perawanku, ya?" Tanya Putri tanpa tedeng aling-aling. Tangan Putri mengelus-elus penisku.
"Siapa yang gak pengen ngeseks sama cewek sesexy kamu, sih? Jujur pengen ngeseks sih. Tapi kupikir jangan sekarang."
"Kenapa? Aku bau, ya?" Goda Putri.
"Bukan. Kamu wangi banget. Kalau gak, masa semua badanmu aku jilatin." Jelasku. Putri menopang satu kepala dengan tangannya. "Aku cuma kepikiran, itu kan bakal jadi momen spesial kita. Nanti kita cari tempat dan waktu yang spesial buat lepas perawan dan perjaka kita."
"Kamu mau tunggu kita nikah dulu?" Tanya Putri.
"Bebas. Yang punya perawan kan kamu. Jadi terserah kamu mau kasih ke siapa. Aku gak mau maksa. Aku gak mau paksa."
"Oke, deal. Nanti pas momennya, aku kasih ke kamu. Walaupun, kalau kamu mau sekarang pun pasti aku kasih." Kata Putri sambil menatap penisku yang masih lumayan keras, meskipun gak sekeras sebelum semburin sperma. Tangan Putri yang satunya masih mengelus dan mengocok penisku.
"Kamu tau, apa yang aku suka dari kamu?" Kata Putri.
"Apa?"
"Kamu tuh gak maksa buat cium atau ngeseks. Walaupun dari awal, aku tahu kamu kepengen banget. Ya, kan?" Tangan Putri sedikit menarik penisku.
"Sial, ketauan." Kataku dalam hati. Tapi aku cuma merespon dengan senyum.
Putri lalu meletakkan kepalanya di dadaku dan aku merangkul dia. Kami tertidur di lantai sambil telanjang dan tangan Putri masih memegang penisku.
GREEEEKKKK... Tiba-tiba aku mendengar suara pagar dibuka.
"Sayang, bangun. Ada yang dateng." Kataku panik.
Putri langsung terduduk, dan melihat keluar.
"Mamaku pulang. Cepet masuk kamar mandi."
Aku langsung mengambil kemeja dan celana panjangku. Aku bawa lari ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, aku penasaran, apa yang dilakuin Putri ya? Aku sempatkan cuci penisku dengan sabun biar aroma pejunya gak ketauan mamanya.
"Hey, mana celana dalamku? Sial. Ketinggalan di luar." Aku bener-bener panik. Gimana kalau ketauan mamanya Putri? Aku pakai celana panjangku tanpa pakai celana dalam. Lalu kupakai dan kancingkan kemejaku. Pelan-pelan aku keluar. Bersiap dimarahi mamanya karena ketahuan celana dalamku.
"Oh, ini temennya Putri." Mamanya menyambutku sambil duduk di kursi yang tadi kami pakai bercinta. Dia memakai kaos agak ketat dan celana panjang jeans warna biru gelap. Putri duduk di samping mamanya sudah pakai tanktop dan celana pendek abu-abu yang tadi dia pakai. Aku mengulurkan tangan buat bersalaman dan kasih senyum manis ke mamanya.
"Baru pulang, Tante?" Tanyaku basa basi. Padahal aku deg-degan dan mataku berkeliling mencari celana dalamku. Menurutku, mamanya Putri lebih pantes dibilang kakaknya. Aku tidak melihat tanda-tanda dia seperti emak-emak pada umumnya. Kulitnya masih kencang semua.
"Iya. Biasa, tadi jalan-jalan dulu sama emak-emak. Udah terusin ngobrolnya. Tante mau istirahat dulu. Put, ini minumnya ditambahin." Kata mamanya Putri sambil menunjuk gelas es teh yang sudah hampir kosong.
"Tuh, Put.... jangan pelit-pelit air." Kataku menggoda Putri. Pinggangku dicubit Putri.
"Iya, Ma. Ntar Putri bikinin lagi. Ini aja yang kayak gentong, segini langsung habis." Cerocos Putri.
Mamanya Putri cuma ketawa pelan melihat kelakuan kami. Dia lalu menuju kamarnya, di sebelah kamar Putri.
"Uff... hampir ketauan." Kata Putri.
"Iya. Nyaris. Put, kamu liat celana dalamku? Aku ketinggalan di luar. Bisa gawat nih kalau ketauan mamamu." Tanyaku panik.
Putri lalu menurunkan celana pendeknya. Dia memakai celana dalamku! Pemandangan aneh tapi sangat merangsang. Hitamnya warna celana dalamku dengan putihnya warna kulit Putri.
"Nih, udah aku selamatin. Daripada berantakan, mending dirapiin di sini kan?" Kata Putri cengengesan sambil menunjuk vaginanya.
"Gila banget sih kamu, Put." Kataku sambil setengah ketawa.
"Mau dilepas di sini, atau aku simpen aja?" Tanya Putri centil.
"Buat kamu juga boleh." Aku ngakak. Putri menaikkan lagi celana pendeknya.
** selesai **